coz life is extremely tasteful!

lelaki dan gamenya

tulisan ini kubuat
karena aku nggak pernah habis pikir
apa asiknya menjelajah dunia tanpa rasa
cuma layar datar tak bernyawa
: ciptakan sekat di tengah pikuknya dunia

puisi ini kugubah
karena otakku nggak pernah bisa terima
apa enaknya terjun ke jurang tanpa aorta
hanya ada kuda, perang, dan panah
: tarik hidup dari bingar utuhnya semesta

larik ini kulayangkan
saat aku sendiri di sebuah malam
ditemani ponsel yang tak kunjung bergumam
ya, cuma ada senyum yang bisa kubuat
ketika mendengar kau berkata
dua jam yang lalu dalam sepersekian detiknya
“aku NGEGAME dulu, sayang.”

Advertisements

Ternyata apa yang namanya menulis itu cumalah masalah pembiasaan saja. Sering nulis, maka tulisanmu pasti akan sangat hidup, alurnya smooth dan enak dibaca. Semakin jarang nulis, jangankan mau bikin alur yang smooth dan bernyawa, cari kata pembukanya saja bisa jadi beban yang teramat berat.
Mangkanya, sering ngeblog dong biar gak goblog!

*harusnya aku juga ngaca sendiri :p

mengabur

Bilang hang out sama kawan,
pikirku kau memang sudah bosan.
Begitu gampang, terbalik sudah keadaan.

Bilang mau cari makan,
pikirmu aku sibuk cari selingkuhan.
Betapa mudah, terbang sudah yang bertajuk kepercayaan.

Apa kabar diskusi renyah di akhir hari?
Apa kabar gelak tawa yang selalu siap menemani?
Apa kabar, bahagia?

: diam, akhirnya, cuma bulir air mata

kisah Bougenville

Bougenville itu bertanya pada dirinya sendiri,
apa yang harus dilakukannya kini.
Seolah semuanya menjadi tanda tanya yang tak mengenal jawaban.
Bagai jurang menganga yang entah dimana ujung dan dasarnya.
Tertunduklah sang Bougenville lemah.
Sekelilingnya: aroma tanah.

Bougenville itu menghardik dirinya sendiri,
mimpi atau nyatakah semua yang ditapakinya kini.
Adakah sang waktu akan melemahkan kerasnya hati,
saat kita hanya bisa meratapi janji yang tak mengenal bukti.
Tersungkurlah sang Bougenville dengan nafas yang tetap dihelah.
Sekitarnya: senandung daun luka.

Ingin kueja bougenville
yang sedari dulu cuma jadi persinggahan mimpi

Ingin kubisikkan bougenville
yang ingin berdiri sendiri tanpa tahu betapa butuhnya ia akan daun, akar, dan ranting

Ingin kuucapkan bougenville
yang butuh kompos dan matahari supaya bisa hidup lagi

Ingin kuteriakkan BOUGENVILLE!!
sampai titik nadi tak sanggup menampung lebih banyak lagi

bilang saja aku jelek

boleh saja bilang aku jelek
tampaknya kini kau memang sudah melek

karena aku memang bukan foto model
yang kerap menjelajah catwalk dengan endel
tapi aku punya cerita yang akan selalu baru
yang tetap ada untuk kubagi cuma dengan kamu

boleh saja bilang aku buruk
karena mata memang tidak bisa terus ditipu

sebab aku memang bukan cinderella
tak ada paras cantik dan tutur manis tiap kali nafas kuhelah
tapi aku hanya punya satu mau
ingin kamu bisa menerimaku seperti apa adanya aku

sah-sah saja kalau mau bilang ini puisi
meski sesungguhnya ini hanyalah tulisan tak berisi

akulah aku
dengan segala lebih dan kurangku
*cuma ingin kau tahu itu

Setengah Sadar

Tumpukan kertas di depan mata,
Sebuah laptop yang masih menyala
Membangunkanku dari mimpi yang sama sekali tak indah
: Lelah, tapi aku tahu aku harus kembali terjaga

Seonggok sapu yang kembali mengajakku berdansa
Helai-helai pakaian lusuh dengan harumnya yang jelaga
Menarikku semakin jauh dari surga
: Lelah, tapi aku tahu aku harus kembali terjaga

Setengah sadar,
Fatamorgana di depan mata
: kapankah jadi nyata?

the happy ending

Sebagai seorang yang berkecimpung dalam dunia sastra pastilah ada beberapa jenis karya yang sering kubaca, dan fairy tales atau dongeng-dongeng adalah satu dari sekian banyak jenis tulisan-tulisan favoritku.

Bagiku, memasuki dunia dongeng benar-benar membebaskan.

Saat mendengarkan dongeng atau membaca dongeng seseorang bisa membayangkan hal-hal yang berada jauh di luar jangkau logika dan perhitungan matematika. Inilah yang kubilang membebaskan. Imajinasi kita bisa melayang kemana saja ia mau. Tanpa ada batasan kemungkinan, dan tanpa ada perbedaan antara nyata dan tidak.

Nyaris segala hal bisa terjadi di sana. Hal lain yang tak kalah menakjubkan, dalam dongeng, kebaikan selalu jadi pemenangnya. Melalui berbagai cara (yang tentunya melibatkan sedikit kelicikan dan tipu muslihat serta akal-akalan si pengarang – see how they have successfully tricked our minds!) mulai dari cara yang paling wajar sampai hal yang paling mustahil ditemui dalam dunia nyata, dongeng selalu menyuguhkan konflik demi konflik yang khas yang berujung pada keberhasilan sang putri kabur dari kurungan ang penyihir jahat, kesuksesan sang pangeran menemukan putri idaman hatinya, terbebasnya seseorang dari kutukan, hingga terlepasnya tiga beruang dari liciknya sang serigala. If I may use my own words, most of those fairy tales always draw a happy ending, and most of those happy endings are quite predictable.

Dongeng selalu indah. Selain karena dipenuhi dengan tokoh-tokoh yang sempurna (tampan, gagah, kuat berkuasa, berwibawa, dll) dongeng juga dipenuhi dengan pesan moral yang dalam (meski aku sendiri nggak begitu yakin apakah moral itu jadi salah satu bagian penting bagi para pembacanya atau tidak – karena saat membaca dongeng kadang kita memang sangat sulit membebaskan diri dari fokus kita terhadap alur dan plot yang dengan indahnya mengusung permasalahan dan solusi dalam satu cerita).


Tapi, baguskah terus menerus membaca dongeng? Ataukah sesungguhnya dongeng hanya bisa jadi konsumsi anak-anak yang pikirannya masih murni, belum sedikitpun terjamah oleh pikiran-pikiran jahat dan keinginan-keinginan serta motivasi-motivasi yang tidak pada tempatnya? Bagaimana dengan kita yang sudah dewasa? Akankah dongeng membuat kita makin berkembang atau malahan makin terbelakang??

Membaca dongeng bisa jadi salah satu pilihan rekreasi yang murah dan gampang didapat, tapi bukannya itu akan membuat kita terbiasa membangun jarak dengan dunia nyata. What happened in fairy tales wouldn’t ever happen in the real life. Real life is harsh! So, why do we keep dreaming and hoping that the miracle, the happy ending would come without doing anything to pursue it? That’s a big nonsense for me!

Semakin lama terkungkung dalam dunia dongeng membuat kita hidup dengan pangharapan yang terlalu tinggi, yang memungkinkan kita melakukan apapun (bahkan hal-hal paling nggak halal sekalipun untuk meraih pengharapan dan cita-cita kita).

Fairy tales make us creative? Yeah, indeed.

Fairy tales make us soul-less and effort-less? No way!!